Emperor Soul
Langit ketika itu tampak menenangkan hati. Dengan beberapa awan
putih menghiasi langit yang berwarna biru, semua tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Tanpa ada hal yang aneh untuk
kedepannya. Dari bawah tampak beberapa orang sedang memegang tongkat sihir
dengan kedua tangannya. Dan menyalalah tongkat itu. Cahayanya begitu
terang. Dan semakin lama cahaya
itu semakin meredup.
Ketika cahaya mulai hilang dari pandangan mata, tiba-tiba langit
menjadi cukup gelap. Sebuah batu yang
jatuh dari langit, yang berpijar begitu terangnya, dan
membuat cahaya di sekelilingnya tampak tidak ada apa-apanya. Dengan cahaya yang
dimilikinya, batu itu tampak dikendalikan oleh seseorang dan tentunya juga
mempunyai tujuan.
Langit
yang tampak begitu mencekam, terlihat dua burung yang melintas terbang dengan
gagahnya. Dengan sigap burung
itu dapat menghindari beberapa pecahan batu kecil . Akan tetapi, ketika batu
besar yang menyala-nyala membara dengan apinya
menghampirinya, dia tidak bisa lagi menghindar.
Dalam kesunyian, cahaya merah di atas langit mengenai burung itu. Tampak dua
orang turun dari burung sebelum batu berpijar mengenainya. Mereka melompat dari
atas, seakan-akan tidak takut
akan kematian—yang bisa menjemput mereka ketika jatuh dari ketinggian. Dengan
mendarat di aliran sungai yang sudah mengering, hal semacam itu hanya membuat bagian bawah baju mereka terkena lumpur yang cukup
pekat. Namun tidak menyebabkan luka pada mereka berdua sedikirpun.
Belum sempat mereka membersihkan lumpur itu, kedua pemuda itu telah
dikepung oleh 21 orang, yang
semuanya memegang senjata lengkap dengan baju perangnya. Seakan mereka
sudah siap untuk berperang saat itu juga. Tampak
raut muka tidak bersahabat yang
ditujukan kepada dua pemuda itu. Salah satu dari
dua pemuda mencoba bernegosiasi dengan ke-21 yang lain, tapi tampaknya
negosiasi itu gagal.
Tidak dapat dihindari lagi, terjadilah adu pedang di antara mereka.
Walaupun hanya berdua, kedua pemuda itu tampak senang dengan pertarungan
tersebut. Dengan pedang besar miliknya, salah
satu pemuda, sudah cukup membuat ke-21 orang itu gemetar ketakutan,
dan akhirnya tumbang satu persatu.
Akan tetapi, seketika itu
terjadi ledakan yang begitu dahsyat. Cahaya
berwarna-warni menuju satu titik yang
langsung mengenai si pengguna pedang besar.
Ditengah kepulan asap akibat
ledakan yang mulai memudar, pemuda dengan pedang besar itu masih
berdiri tegak. Dengan aura biru disekitar tubuhnya. Tanpa membuang waktu dia memutar pedangnya dan timbullah Tornado Fire yang begitu besar, yang menari begitu indahnya dengan
melahap semua orang di hadapannya. Tornado itu meliuk-liuk menyapu bersih semua
orang di depannya, lalu menerbangkannya seperti kapas yang ditiup angin. Tidak ada yang
selamat dengan serangan seperti itu. Semua yang terkena serangan langsung tergeletak
di tanah kemudian
menjadi batu nisan.
Mereka berdua, tanpa banyak bicara meninggalkan batu nisan yang
banyak itu. Dengan menaiki burung yang sama, mereka pergi menjauh dan menuju kesunyian langit siang hari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar