Minggu, 10 Juli 2016

Emperor Soul

Emperor Soul
Langit ketika itu tampak menenangkan hati. Dengan beberapa awan putih menghiasi langit yang berwarna biru, semua tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tanpa ada hal yang aneh untuk kedepannya. Dari bawah tampak beberapa orang sedang memegang tongkat sihir dengan kedua tangannya. Dan menyalalah tongkat itu. Cahayanya begitu terang. Dan semakin lama cahaya itu semakin meredup.
Ketika cahaya mulai hilang dari pandangan mata, tiba-tiba langit menjadi cukup gelap. Sebuah batu yang jatuh dari langit, yang berpijar begitu terangnya, dan membuat cahaya di sekelilingnya tampak tidak ada apa-apanya. Dengan cahaya yang dimilikinya, batu itu tampak dikendalikan oleh seseorang dan tentunya juga mempunyai tujuan.
Langit yang tampak begitu mencekam, terlihat dua burung yang melintas terbang dengan gagahnya. Dengan sigap burung itu dapat menghindari beberapa pecahan batu kecil . Akan tetapi, ketika batu besar yang menyala-nyala membara dengan apinya menghampirinya, dia tidak bisa lagi menghindar.
Dalam kesunyian, cahaya merah di atas langit mengenai burung itu. Tampak dua orang turun dari burung sebelum batu berpijar mengenainya. Mereka melompat dari atas, seakan-akan tidak takut akan kematian—yang bisa menjemput mereka ketika jatuh dari ketinggian. Dengan mendarat di aliran sungai yang sudah mengering, hal semacam itu hanya membuat bagian bawah baju mereka terkena lumpur yang cukup pekat. Namun tidak menyebabkan luka pada mereka berdua sedikirpun.
Belum sempat mereka membersihkan lumpur itu, kedua pemuda itu telah dikepung oleh 21 orang, yang semuanya memegang senjata lengkap dengan baju perangnya. Seakan mereka sudah siap untuk berperang saat itu juga. Tampak raut muka tidak bersahabat yang ditujukan kepada dua pemuda itu. Salah satu dari dua pemuda mencoba bernegosiasi dengan ke-21 yang lain, tapi tampaknya negosiasi itu gagal.
Tidak dapat dihindari lagi, terjadilah adu pedang di antara mereka. Walaupun hanya berdua, kedua pemuda itu tampak senang dengan pertarungan tersebut. Dengan pedang besar miliknya, salah satu pemuda, sudah cukup membuat ke-21 orang itu gemetar ketakutan, dan akhirnya tumbang satu persatu.
Akan tetapi, seketika itu terjadi ledakan yang begitu dahsyat. Cahaya berwarna-warni menuju satu titik yang langsung mengenai si pengguna pedang besar.
Ditengah kepulan asap akibat ledakan yang mulai memudar, pemuda dengan pedang besar itu masih berdiri tegak. Dengan aura biru disekitar tubuhnya. Tanpa membuang waktu dia memutar pedangnya dan timbullah Tornado Fire yang begitu besar, yang menari begitu indahnya dengan melahap semua orang di hadapannya. Tornado itu meliuk-liuk menyapu bersih semua orang di depannya, lalu menerbangkannya seperti kapas yang ditiup angin. Tidak ada yang selamat dengan serangan seperti itu. Semua yang terkena serangan langsung tergeletak di tanah kemudian menjadi batu nisan.

Mereka berdua, tanpa banyak bicara meninggalkan batu nisan yang banyak itu. Dengan menaiki burung yang sama, mereka pergi menjauh dan menuju kesunyian langit siang hari itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar